Berat

Kawan, pernahkah kau merasa terabaikan, tak diacuhkan, tak dianggap? Kenyamanan dalam kesepian. Kebisingan yang merusak ketenangan. Pernahkah kau berpikir demikian?

Pernahkah saat kau menjejak menuju kesempatan baru, kau kehilangan pijakan? Pijakan itu lenyap laksana bulan di siang hari. Perlahan, tak peduli, membekas.... menyakitkan.

Ahh....
Ambilkanlah bulan untukku..
Gerai cinta tak mengalah
Musnah bersama sebuah statement nan indah

'Watashi wa anata wo aishite'

Sungguh....
Sungguh indah...

Aku berpikir, maka aku ada. Cogito Ergo Sum. Kurasa, aku dilahirkan dibawah doktrin yang membelenggu ini. Selalu berpikir bahwa menjadi seorang yang pintar adalah sesuatu tujuan yang baik. Mencerdaskan kehidupan bangsa! Siapa yang tak kenal kata itu? MEMBANGGAKAN ORANGTUA!! SIAPA YANG TAK KENAL RANGKAIAN KATA NAN INDAH ITU!! SIAPA ORANGTUA YANG TAK BANGGA BILA ANAKNYA YANG SAAT INI BERLAKU TOLOL SELAYAKNYA BABUN LEPAS BERKATA SEDEMIKIAN RUPA!! ITULAH KEKUATAN KATA!

sayangnya, bukan itu yang kuperlukan sekarang...

Seorang anak manusia kini merindukannya. Rindu akan wangi cologne yang dipakainya sebelum berangkat. Rindu akan langkah bersemangatnya memasuki kelas bahasa. Rindu akan kinerja cekatannya dengan kamera. Rindu akan duduk berdua dengannya, menyanyikan sebuah lagu.. lagu memori yang hingga kini selalu kusimpan dalam ponsel pintarku, tak peduli betapapun seringnya aku mendengarnya.... betapa sering pun aku menyanyikannya... sayang.... kurasa lagu memori itu tak lengkap tanpa suaramu... hanya suaraku sendiri memecah sunyi otak yang mati....

Tahukah kau...?
Perbedaan besar antara kita berdua..?

1,5 tahun tak cukup menyimpan beragam hafalanku soal memorimu, sedangkan untukmu 1,5 tahun adalah waktumu menemukan cinta baru. Entah kenapa aku yakin kau lupa saat kita berdua, duduk berseberangan dengan medan perangku, ditemani minuman yang kubayarkan dengan cuma-cuma walaupun tak punya cukup uang, menyanyikan lagu memori pertama kita... bergoyang bersama melodi piano seorang sahabat... ah, waktu itu...

Tahukah kau...?
Aku berusaha mengubur memori ini. Berusaha menghilangkan lagu memori ini. Berusaha melupakan hafalanku. Berusaha menyerah pada nasib. Berusaha mengalir.

Kurasa....
Sudah saatnya fantasi itu hilang.
Sudah saatnya aku berhenti membodohi diri.
Sudah saatnya kulupakan perasaan ini.
Fenie Nurfauziah.

Bersama dimulainya alunan terompet Kenny G....
Sudah saatnya lagu memori kita berakhir.
Kuwashii kedo...

Published with Blogger-droid v1.7.4

POSTED BY Unknown
POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Leave a Reply

Diberdayakan oleh Blogger.